Harga minyak dunia rata-rata saat ini sudah mencapai US$ 115 per barel. Pemerintah menyatakan terpaksa akan menaikkan harga BBM subsidi untuk menekan anggaran subsidi BBM dalam APBN 2012 yang bakal bengkak. Dalam hal ini, ada pro dan kontra yang terjadi.
penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat tingginya harga minyak dunia dan demi mengurangi subsidi amat mungkin belum bisa dilakukan 1 April 2012. Salah satu kendalanya, DPR sebagai pihak yang membuat undang-undang dan dimintai persetujuan soal penaikan harga BBM belum satu suara.
Dari 11 fraksi di DPR, empat fraksi menolak penaikan harga BBM. Mereka adalah Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi PKS, Fraksi Partai Gerindra, dan Fraksi Partai Hanura.
Fraksi Partai Golkar yang memiliki kursi terbanyak kedua di DPR terbelah. Sebagian setuju terhadap penaikan, sebagian lagi menolak.
Dukungan penuh atas keputusan menaikkan harga BBM datang dari Fraksi Partai Demokrat. Anggota Komisi VII Nur Yasin (F-PKB) menilai penaikan harga BBM atau pemberian subsidi konstan bisa mendidik masyarakat terbiasa terhadap perubahan rasional. Aktivis YLKI Tulus Abadi menyebut opsi penaikan harga BBM lebih masuk akal. Di sisi lain, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Noer Fadjriansyah menilai ketidaktegasan pemerintah soal BBM membuat rakyat makin menderita.
Beberapa komentar dari masyarakat mengenai dampak kenaikan BBM yaitu :
• Dengan naiknya BBM kita yakin akan berdampak dengan kenaikan SEMBAKO, dan rakyat miskin akan semakin miskin serta terpuruk. Kekerasan dan premanisme akan meningkat. Karna jika sudah menyangkut masalah keuangan orang bisa khilaf. Adapun subsidi untuk rakyat miskin belum tentu teralurkan dengan benar.
• Keinginan pemerintah menaikkan BBM dilator belakangi untuk mengatasi problemnya atas APBN. Selama orientasi pemerintah dalam penerimaan Negara tertuju pada sector migas, maka sudah tidak heran maunya dari kenaikan BBm. Padahal penerimaan bisa saja dari non –migas yaitu sector pajak yang diperkirakn bisa saja terjadi penggelapan puluhan bahkan lebih yg jumlahnya dapat menutupi jumlah subsidi BBM. Jadi pemerintah harus bekerja keras untuk penerimaan dari non-migas, jangan memindahkan problem Negara menjadi problem rakyat kecil.
Dari komentar di atas, saya simpulkan bahwa sebagian besar masyarakat kurang setuju terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Tapi saya juga tidak dapat memberikan solusi untuk masalah ini. Semoga saja Indonesia tetap stabil dalam menghadapi masalah kenaikan BBM ini. Dan saya harap pemerintah memperhatikan dengan baik efek atau resiko yang akan dirasakan oleh rakyat Indonesia atas kebijakan yang akan mereka berlakukan.
No comments:
Post a Comment