“Besok kalian akan mendapat seorang teman baru dikelas ini. Andre , ajak ia duduk sebangku denganmu ya!”, seru Bu Wati sebelum istirahat. Akhirnya ketika istirahat tiba, satu kelas sibuk menyambut kedatangan sang murid baru itu, menurut info, dia pindahan dari SMP 3 Wonogiri.
Dikelas ini sudah tradisi, setiap ada anggota baru atau murid baru harus ada ospeknya supaya kedatangannya terasa berkesan. Yagi, ketua kelas telah merencanakan sesuatu untuk menyambut anak baru itu, anak-anak kelas menyetujui ide Ihsan tetapi jangan keterlaluan. Akhirnya setelah jam pelajaran terakhir selesai, Yagi melakukan voting untuk meng-ospek anak baru itu. Saat pengambilan suara, semua diam tak bersuara, tak ada usul yang keluar dari mulut satu kelas ini. Tiba-tiba Firman berdiri “Aku ada ide ! kita taruh saja kodok atau cicak kedalam kolong mejanya. Bagaimana?”. Seisi kelas tetap diam namun terlihat mimik wajah (terutama yang perempuan) tidak setuju dengan ide Firman.
“Bagaimana kalau ular-ularan karet saja, awalnya dia pasti kaget tapi kan ini hanya mainan karet”, Chibi dengan lantang memberi ide. Lagi-lagi semua terdiam dengan usul Chibi, namun nampaknya sebagian dari mereka menyetujuinya. Yagi berusaha mengajukan pertanyaan lagi, ada usul lain atau tidak karena kalau tidak ada, ia akan menyetujui ide dari Chibi. Dan benar saja, tidak ada satu orang yang member usul lain. Maka, keputusannya telah bulat, untuk menyambut anak baru itu, ular-ularan karet ditaruh di kolong mejanya. Yagi menyuruh Chibi untuk dating lebih awal besok pagi dan tidak lupa untuk membawa mainannya.
“Kamu yakin dengan idemu? Kalau ternyata dia punya penyakit jantung bagaimana?, Intan bertanya cemas kepada Chibi. Namun Chibi hanya tersenyum seraya berkata “Kamu tenang saja, jangan kuatir. Semua akan baik-baik saja dan pasti akan terasa berkesan”. Intan Cuma bisa menghembuskan nafas pendek. Ia semakin tidak tenang untuk menyaksikan apa yang terjadi besok pagi, ia mencemaskan kalau dugaanya benar, anak itu terkejut dan pingsan, itu berarti kami sekelas akan dihadapkan kepada hukuman yang berat.
Keesokan paginya, Intan berangkat lebih pagi dari biasanya. Ternyata tidak hanya Intan, sebagian anak kelas juga sudah datang. Dipojok kelas terlihat Yagi dan Andre sedang tertawa bersama sambil memainkan ular-ularan karet, Intan geli sendiri melihatnya, bentuknya benar-benar mirip dengan ular sungguhan. “Eh, sudah setengah tujuh! Ayuk kita siap-siap!”, Yagi berteriak, semua berkerumun dan Yagi mulai membagi tugas. Beberapa orang ditugaskan untuk tetap berada dikelas seperti biasanya agar tidak mencurigakan, Intan dan Andre mendapat tugas menjemput dan mengantar murid baru itu ke bangkunya. Sementara Chibi berdiri di pintu memebri aba-aba kepada mereka yang berada diluar kelas untuk masuk kedalam saat murid baru itu menjerit ketakutan .Kemudian seisi kelas akan mengucapkan selamat datang kepada murid baru itu bersama-sama. Kelihatannya memang menarik, namun tetap saja Intan merasa was-was.
Intan dan Andre menuju kantor Kepala Sekolah, ternyata murid baru itu sudah datang. Penampilannya seperti anak pendiam. Lalu Intan dan Andre berjalan bertiga menuju kelas bersama murid baru itu. “Namaku Andrea dan yang ini Intan, kamu nanti sebangku denganku. Ibu wati , wali kelas kami mengatakan hal itu kemarin”, kata Andre. “Namaku Rischa”, jawabnya dengan senyum malu. Begitu sampai di pintu kelas, Chibi mencegah Intan untuk terus mengikuti Andre dan Rischa. “Kamu disini saja bersamaku”, ujar Chibi. Dari pintu bersama Chibi aku akan menyaksikan kejutan untuk Rischa.
Andre menunjukkan tempat duduk Rischa dan ketika Rischa hendak menyimpan tasnya ke kolong meja, tiba-tiba tangannya meraih sesuatu. Wajahanya pucat pasi dan ia menjerit keras ketika mengangkat benda dari kolong meja yang ada di tangannya. Intan sangat terkejut melihat reaksi Rischa yang tiba-tiba terkulai lemas diatas meja. Seisi kelas langsung panik.
“Kamu tidak usah panik”, cegah Chibi sambil menarik tangan Intan, ia heran dengan sikap Chibi yang terlihat tenang dengan suasana ini. Chibi malah tersenyum dan mendekati kerumunan sekitar Rischa. Namun apa yang terjadi? Tiba-tiba Rischa berdiri dan tertawa di dekat Chibi dan ini sangat membuat wajah-wajah yang tadi panik jadi keheranan dengan tingkah mereka berdua.
“Maafkan aku mengacaukan permainan kita, sebenarnya Rischa adalah sepupuku”, tutur Chibi sambil menahan tawanya. “Kuharap kalian tidak memusuhi Chibi dan tetap menerima kehadiranku disini”, sambung Rischa dengan senyuman manisnya.
Seisi kelas spontan tertawa bersama. Dan Intan membatin, pantas saja sejak kemarin Chibi terlihat tenang, rupanya ia telah mempersiapkan permainan lain dengan murid baru yang ternyata sepupunya. Tapi justru permainan ini jauh lebih berkesan karena bukan anak baru yang merasa terjebak, tetapi Intan. Ini namanya ospek gagal.
No comments:
Post a Comment