Thursday, May 27, 2010

Positivisme vs Kontruksivisme


Positivisme

Positivisme merupakan perpanjangan tangan dari empirisme yang meradikalkan pandangan emiprisme “…bahwa pengetahuan kita tentang dunia dimungkinkan hanya melalui dari pengalaman sensasi, impresi indrawi kita.”[1] August Comte merupakan orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan aliran ini. Positivisme berusaha untuk melawan filsfafat negative (filsafat yang terikat dengan metafisiska) dan destruktif secara kritis dan revolusioner. Gerakan August (positivisme ) ini dapat dilihat juga sebagai respon atas revolusi prancis dan pencerahan yaitu gerakan revolusi social, sehingga positivisme August lebih dikenal sebagai positivisme social, yang percaya bahwa kemajuan peradaban dilandaskan pada perkembangan sains, sehingga efek utama dari kemajuan sains tersebut mampu memberikan tatanan masyarakat yang baru, yang lebih baik. Ciri-ciri positivisme dapat dilihat sebagai gerakan yang :

  1. · Obyektif, bebas nilai merupakan pemisahan yang tegas antara fakta dan nilai, hanya melalui fakta, pengetahuan tentang realitas didapatkan (korespondensi)

  2. · Fenomenalisme, realitas adalah impresi indrawi semata, selain itu tidak (antimetafisika)

  3. · Nominalisme, Konsep merupakan pengejawantahan dari realitas particular

  4. · Reduksionisme, realitas direduksi sebagai fakta-fakta impresi indrawi

  5. · Naturalisme, alam adalah pada diri-nya sendiri dan membentuk diri-nya sendiri

  6. · Mekanisme, realitas adalah sejauh realitas itu dapat dijelaskan.

Ciri-iri dari positivisme tersebut sejalan dengan doktrin sains yaitu Unified science, dengan pandangan bahwa pengetahuan tentang realitas (Ilmu pengetahuan) bukan hanya pengetahuan yang eksistensial melainkan pengetahuan yang mampu melewati penjelasan fakta, logic,verifikasi, menggunakan bahasa yang sama, sehingga pengetahuan tak lebih dari usaha untuk menjelaskan. Positivisme kemudian berkembang menjadi gerakan dengan nuansa ilmu pengetahuan yang sangat kental, juga terdapat beberapa aliran dalam positivisme itu sendiri, seperti positivisme evolusioner yang kemudian berkembang menjadi positivisme kritis yang merupakan titik tolak dari positivisme logis.

Positivisme logis merupakan gerakan baru pasca perang dunia 1 yang mempunyai tujuan membangun kembali peradaban yang telah ‘runtuh’ pada perang dunia 1. Dipelopori oleh sejumlah intelektual dari kelompok Wina, seperti Rudolph Carnap. Positivisme logis tidak menyetujui pola penataan masyarakat yang dikembangkan oleh gerakan Restorika pasca perang dunia 1, yang mengajukan teologi atau flsafat sebagai jawaban atas segala permaslahan yang terjadi (permasalahan cultural, social, ekonomi, dll). Menurut positivisme logis sudah seharusnya ‘kita’ meninggalkan tradisi metafisika Kant, dan Hegel yang tidak dapat di uji kebenarannya secara empiris.

Pandangan Nietzcshe

Pemikiran Nietzcshe dikenal sebagai pemikiran yang transvaluation, memutar balikan nilai-nilai yang sudah ada. Walaupun kehadiran Nietzcshe jauh lebih awalm disbanding pemikiran tentang positivisme, namun hnaya dengan pandangan Nietzcshe-lah positivisme data ‘digoyahkan’. Nihilsm Nietzcshe merupakan pandangan bahwa tidak berlaunua universalitas, tidak ada nilai yang bisa diterima secara umum, jika positivisme berpandangana pengetahuan hanya data dikatakan sebagai ilmu pengetahuan ketika dia mampu melalui doktin tentang unified science dan pengetahauan sudah seharusnya meniadakan sisi eksistensial maka dengan pandangan Nietzcshe sisi eksistensial manusia tetaplah ada dan tidak bisa dihilangkan karena mansuia adalah yang memebentuk diri sekaligus yang dibentuk oleh fakta-fakta yang telah dibentu, manusia adalah creator. Dasar bangunan Nietzcshe sebenarnya adalah filsafat manusianya, yang humanis-sekuler memandang manusia sebagai dimensi yang special dalam tatanan kosmos, namun tentunya Nietzcshe berbeda dengan filsuf lainnya yang memandang bahwa sisi special manusia bukan terletak pada rasionya melainkan pada kehendaknya (will to power). ‘Sama’ dengan Marx, Nietzcshe juga meramalkan manusia suatu saat akan terbagi menjadi dua kelompok besar, dua kelas (seperti yang dikatakan Marx), kelas budak dan kelas aristocrat (Dyonisian dan Apollonian). Dan kemanusnusiaan yang telah terlupakan karena nilai-nilai yang secara tidak sadar melemahkan (kelas budak), sudah sepantasnya dibongkar. Pertama dengan membunuh Tuhan, sebagai wujud idealisasi kelas aristocrat, pembunuhan Tuhan ini dapat diartikan sebagai berakhirnya nilai-nilai dan mengembang-biak kan ubermensch dan menempatkan will to power sebagai tempat yang tertinggi manusia. Manusialah yang akan menggantikan posisi Tuhan, karena manusia-lah yang akan menentukan bagi diri-nya sendiri. Gebrakan Nietzcshe menanamkan pandangan yang kontruksivisme, mengkontruksi nilai-nilai yang ada untuk menghadirkan eksistensi manusia, sehingga sampai saat ini pandangan Nietzcshe masih digandrungi dan diterima oleh masyarakat, khususnya postmodern.

Tanggapan

Positivisme bagaimanapun telah melupaan sisi eksistensial manusia, dan berusaha menutup kemungkinan dari semua tindakan manusia, manusia tidak lebih seperti robot yang mekanistik. Science seolah menjadi Tuhan baru bagi positivisme. Nietzcshe dan pandangannya merupakan satu-satunya jawaban yang mungkin akan meruntuhkan pandangan positivisme, dan yang akan membunuh Tuhan dari positivisme dengan kontruksivionisme.

By : s m a



[1] Donny Gahral Adian, Sebuah pengantar komperhensif: Percik pemikiran kontemporer, hal:35..

No comments:

Post a Comment