Hilary Putnam memakai term reflective transendence untuk menjelaskan cara kerja metode dialektika Socrates. Reflective transcendence ini mencoba untuk standing back pada konvensi lama yang dibuat oleh filsafat, yang menyangkut dua macam cita-cita pada filsafat ini (Socrates), yakni
1. The aspiration to justice, and
2. The aspiration to critical thinking.
Dialog yang terjadi antara Socrates dan Euthrypho dimulai dengan pertanyaan tentang piety mengambarkan, bahwa pada masa yunani kuno (dimana Socrates hidup) masih percaya pada gods, yang menjadi tolak ukur apa yang disebut piety dan unpiety, tindakan yang piety atau yang saleh adalah tindakan yang didasarkan pada gods, dan sebaliknya. Menurut Socrates definisi piety yang disampaikan oleh Euthrypho tidaklah cukup untuk menjelaskan apa itu piety dan unpiety, apa yang dicontohkan oleh Euthrypho misalnya tentang menuntut penjahat yang telah merampok, atau tindakan pemerkosaan sebagai wujud piety demi pencapaian justice dan atas nama gods (dewa). Sekalipun begitu sebenarnya Socrates sendiri tidak mempunyai jawaban yang final atau yang komprehensif untuk menjelaskan apa itu sebenarnya tentang piety. Socrates hanya berusaha ‘mengobati’ penyakit yang menggerogoti orang-orang Yunani waktu itu, karena merasa bahwa pengetahuan yang mereka miliki sangatlah cukup ungtuk menjelaskan piety dan unpiety.
Jika kita berbalik pada masa enlightenment yang bercirikan oleh dua pengaruh besar, yakni
1. Continental Rationalism, yang diprakarsai oleh Hobbes, Locke dan Rosseau, yang berusaha untuk memanisfestasikan dirinya pada konsepsi baru tentang masyarakat social atau social contract dan perbincangan baru mengenai natural right, dan keduanya kini menjadi diskusi utama dalam pembahasan teori politik.
2. The new science, ditandai dengan suksesnya fisika Newton dan berkembangnya matematika serta ilmu alam lainnya.
Enlightenment pada abad 17-18 mempunyai perbedaan dan kesamaan. Misi pecerahan yang mereka bawa adalah
1. The same aspirations to reflective transcendence. Ditandai dengan kehendak atau keiinginan untuk mengkritik pada keyakinan yang umum mengenai institusi dan mengusulan adanya radical reform. Putnam tidak mengkritik republic pada Plato, melainkan kritik terhadap the innate inferiority of women, yang Plato ambil dari obyektivasi yang dilakukan oleh Socrates mengenai “…the nature of men and women are different and yet we are saying that these different natures are have the same occupations”. Dari sini Putnam memakai metode yang sama yang digunakan oleh Socrates (dialog) untuk menunjukkan bahwa pernyataan Socrates juga tidak dapat dibenarkan mengenai pernyataan diatas.
2. The same enthusiasm for the new science (keyakinan pada Geometry Ecludian pada Plato).
3. The same refusal to allows of ethics and political philosophy to be decided by an appeal to religious text or Myths.
Pandangan plato terhadap legitimasi atau justice yang ideal adalah ketika peraturan itu dibuat oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan tertentu, filsuf misalnya, karena mereka (filsuf) mempunyai kemampuan pengetahuan tentang nature of Good. Dasar dari pandangan Plato disini adalah kepercayaannya terhadap meritocracy atau asas profesionalisme, misalnya orang yang kuliah di fakultas hukum sudah tentu mempunyai kemampuan untuk menjadi ahli hokum (pengacara).
Putnam, mengindikasikan 3 enlightenment, yang pertama adalah abad 17, abad 18 dan yang terakhir adalah pragmatism enlightenment. Enlightenment pada abad 17-18 masih dipengaruhi oleh konsepsi Plato, ditandai dengan penggunaan huruf capital ‘E’, sedangkan pragmatism enlightenment diprakarsai oleh John Dewey, walaupun ketiga-tiganya dibagun oleh democrati strain. Visi utama dari Dewey sebenarnya adalah ‘…how to deliberative democracy could work is not in 18 century one.’ Dewey juga menolak kepercayaan terhadap Reason, yang menggunakan ‘R’ dengan huruf capital, yang menurut Dewey mengindikasikan adanya The immutable truth, sebuah narasi yang berkeyakinan bahwa ada kebenaran tunggal, besar, dan universal yang kemudian dikritik oleh kaum empirisme. Pengetahuan a priori dianggap Dewey sebagai traditional rationalism, yang mengklaim bahwa pengetahuan hanya dapat diketahui dari ara kerja reason saja, hal ini kemudian mendapat kritikan dari kaum empirisme yang beraandangan bahwa reason hanya berperan sebagai alat pengotak-atik saja karena pengetahuan sebenarnya haanya akan didapat dari impresi indrawi. Dewey, merujuk pada pandangan William James, …by creating new observation-concept we ‘institute’ new modern data, kemudian diradikalkan oleh Dewey menjadi, …neither the form of possible explanations nor the form of possible data can be fixed in advance, once and for all.
Pragmatisme secara keseluruhan menolak fallibilist dan anti-sceptical, dan anti-sceptical, yang mana empirisme tradisional sering terjebak diantara keduanya, kadang menjadi sangat skeptis, dan kadang menjadi sangat fallibilist. Dewey sering menginvestigasi permasalahan social dengan menggunakan metode empirical policy-oriented investigation. Putnam, juga mencontohkan bagaimana para pemikir pada empirisme klasik seperti Comte dan Mill sangat berpengaruh pada waktu itu (Dewey), omte yang kembali pada model society yang dibangun oleh Plato yakni meritocracy, dengan menvisualisasikam permasalahan social hanya dapat diatasi oleh social-scientific intellectual, sarjana sosial misalnya. Hal ini mendapat kitikan yang tajam dari Dewey dengan argumentasi benelovent despot. Atau Mill dengan mereduksi sociology menjadi psikologi, mampu mengatasi permasalahan social, yaitu individual psychology, yang pada akhirnya hanya menjadi misguided fantasy.
Menurut Putnam, terdapat 2 kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Enlightenment, yakni
1. Attempted to reason aprioristically, and collapsed to dogmatically. Bertahan pada reason sebagai pengetahuan yang a priori, yang pada akhirnya akan jatuh pada pengetahuan yang dogmatis.
2. Internal contradiction. Misalnya pada buku Marx Capital, volume 3, yang tidak did not resist the temptation to give an a priori proof.
Putnam, kembali pada perbedaan enlightenment anatar abad 17, 18 dan pragmatism enlightenment, Putnam setuju dengan pandapat Briton …that development (in political philosophy) of the social contract theory from Hobbes, Locke to Rosseau akan menjadi ordinary political discussion di Eropa maupun di Amerika, dengan konsep natural of rights juga. Walaupun menggunakan Hobbes, Locke dan Rosseau, sebenarnya Briton juga menggunakan model berpikir Kantian, dengan membawa permasalahan morality didalamnya. Tidak dipungkiri Dewey memulai karir di bidang filsafat dengan menggunakan model Hegelian. Perbedaan yang mendasar menurut Putnam antara enlightenment pada abad 17-18-pragmatism enlightenment, adalah konsepsi etika dan filsafat moral masih mendominasi sebagian besar para filsuf sampai saat ini, menurut Rawls sebenarnya ermasalahan etika dan filsafat moral berakar dari perdebatan panjang antara varieties of Kantian dan Utilitarianism. Bagi Putnam, Dewey-lah yang pada akhirnya mampu mengatasi permasalahan filsafat bahwa filsafat haruslah criticism of criticism.
By : S M A
No comments:
Post a Comment