Thursday, May 27, 2010

Analisis Ilmu Budaya Dasar


Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai-nilai, kebudayaan, dan verbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ina perlu karena dirasakan kekurangan pada system pendidikan, baik tingkat menengah maupun pada tingkat perguruan tinggi.
Jadi secara singkat dapatlah dikatakan setelah mendapat mata kuliah ini mahasiswa diharapkan memperlihatkan :
1. Minat kebiasaan menyelidiki apa yang terjaid di sekitar nya dan di lingkungan luar.
2. Kesadaran akan pola – pola yang dianutnya
3. Keraelaan memikirkan kembali dengan hati terbuka nilai – nilai yang dianutnya
4. keberanian moral untuk mepertahanakan nilai – nilai yang dirasanya sudah dapat dipertanggung jawabkan.
Latar belakang diberikannya mata kuliah ilmu budaya dasar yang tidak haya malihat dalam konteks pandidikan tinggi tetapi juga dalam konteks budaya, negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut:

Positivisme vs Kontruksivisme


Positivisme

Positivisme merupakan perpanjangan tangan dari empirisme yang meradikalkan pandangan emiprisme “…bahwa pengetahuan kita tentang dunia dimungkinkan hanya melalui dari pengalaman sensasi, impresi indrawi kita.”[1] August Comte merupakan orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan aliran ini. Positivisme berusaha untuk melawan filsfafat negative (filsafat yang terikat dengan metafisiska) dan destruktif secara kritis dan revolusioner. Gerakan August (positivisme ) ini dapat dilihat juga sebagai respon atas revolusi prancis dan pencerahan yaitu gerakan revolusi social, sehingga positivisme August lebih dikenal sebagai positivisme social, yang percaya bahwa kemajuan peradaban dilandaskan pada perkembangan sains, sehingga efek utama dari kemajuan sains tersebut mampu memberikan tatanan masyarakat yang baru, yang lebih baik. Ciri-ciri positivisme dapat dilihat sebagai gerakan yang :

Resensi Film MY NAME IS KHAN

Genre : Drama

Release Date : February 12, 2010
Director : Karan Johar
Script : Shibani Bathija, Shibani Bathija, Niranjan Iyengar
Producer : Hiroo Yash Johar, Gauri Khan
Distributor : Fox Searchlight Pictures
Duration : 161 minutes
Budget : US$21 million
Official Site : www.mynameiskhanthefilm.com

Tidak bisa disangkal jika peristiwa 11 September 2001 memang berdampak besar buat kehidupan orang Amerika. Peristiwa tragis ini membuat jurang yang sudah ada antara warga Amerika dengan imigran asal Asia dan Timur Tengah yang beragama Islam jadi semakin lebar.

Hilary Putnam : Ethic Without Ontology, Part II : Three Enlightenment.


Hilary Putnam memakai term reflective transendence untuk menjelaskan cara kerja metode dialektika Socrates. Reflective transcendence ini mencoba untuk standing back pada konvensi lama yang dibuat oleh filsafat, yang menyangkut dua macam cita-cita pada filsafat ini (Socrates), yakni

1. The aspiration to justice, and
2. The aspiration to critical thinking.

Dialog yang terjadi antara Socrates dan Euthrypho dimulai dengan pertanyaan tentang piety mengambarkan, bahwa pada masa yunani kuno (dimana Socrates hidup) masih percaya pada gods, yang menjadi tolak ukur apa yang disebut piety dan unpiety, tindakan yang piety atau yang saleh adalah tindakan yang didasarkan pada gods, dan sebaliknya. Menurut Socrates definisi piety yang disampaikan oleh Euthrypho tidaklah cukup untuk menjelaskan apa itu piety dan unpiety, apa yang dicontohkan oleh Euthrypho misalnya tentang menuntut penjahat yang telah merampok, atau tindakan pemerkosaan sebagai wujud piety demi pencapaian justice dan atas nama gods (dewa). Sekalipun begitu sebenarnya Socrates sendiri tidak mempunyai jawaban yang final atau yang komprehensif untuk menjelaskan apa itu sebenarnya tentang piety. Socrates hanya berusaha ‘mengobati’ penyakit yang menggerogoti orang-orang Yunani waktu itu, karena merasa bahwa pengetahuan yang mereka miliki sangatlah cukup ungtuk menjelaskan piety dan unpiety.
Jika kita berbalik pada masa enlightenment yang bercirikan oleh dua pengaruh besar, yakni

1. Continental Rationalism, yang diprakarsai oleh Hobbes, Locke dan Rosseau, yang berusaha untuk memanisfestasikan dirinya pada konsepsi baru tentang masyarakat social atau social contract dan perbincangan baru mengenai natural right, dan keduanya kini menjadi diskusi utama dalam pembahasan teori politik.
2. The new science, ditandai dengan suksesnya fisika Newton dan berkembangnya matematika serta ilmu alam lainnya.
Enlightenment pada abad 17-18 mempunyai perbedaan dan kesamaan. Misi pecerahan yang mereka bawa adalah

1. The same aspirations to reflective transcendence. Ditandai dengan kehendak atau keiinginan untuk mengkritik pada keyakinan yang umum mengenai institusi dan mengusulan adanya radical reform. Putnam tidak mengkritik republic pada Plato, melainkan kritik terhadap the innate inferiority of women, yang Plato ambil dari obyektivasi yang dilakukan oleh Socrates mengenai “…the nature of men and women are different and yet we are saying that these different natures are have the same occupations”. Dari sini Putnam memakai metode yang sama yang digunakan oleh Socrates (dialog) untuk menunjukkan bahwa pernyataan Socrates juga tidak dapat dibenarkan mengenai pernyataan diatas.